Sorotan terhadap Kinerja Dinkes Lampung Selatan, Publik Pertanyakan Sikap PLT dan Kabid Terkait Isu Internal

Lampung Selatan,- Dibalik blundernya ucapan yang di lontarkan oleh oknum Dinas Kesehatan (Dinkes), yang bernada tinggi dan di duga merendahkan profesi wartawan melalui pesan WhatsApp beberapa hari belakangan ini, terungkap salah satu pengirim pesan tersebut bernama Rosmeli yang mana diduga sebagai pemilik dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Banding 1 Kecamatan Rajabasa. Senin (27/07/2026).

Selain diduga memiliki dapur MBG dan ternyata Rosmeli tercatat sebagai pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lingkungan Dinas Kesehatan Pemerintah kabupaten Lampung Selatan, sebagai staf di P2P di Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, yaitu unit kerja yang menangani pencegahan penyakit menular, penyakit tidak menular, serta surveilans dan imunisasi.

Kejadian itu bermula saat media aktuallampung.com membagikan berita kepada Rosmeli dalam berita tersebut berjudul “Penyaluran MBG di Kecamatan Rajabasa, Kembali Menjadi Sorotan!!! Kesekian kalinya Terdapat Belatung Pada Makanan”.

Alih-alih memberikan tanggapan positif, atas berita itu, pesan yang ditulis Rosmeli melalui pesan WhatsApp membuat publik dibuat melongo. Hal itu memunculkan spekulasi dikalangan publik, pasalnya mengapa Rosmeli memberikan tanggapan yang seharusnya bukan menambah keruh dan memicu publik semakin hilang kepercayaan terhadap tenaga kesehatan.

“Saya juga orang kesehatan,” ujar Rosmeli kepada media saat menyampaikan pandangannya mengenai pemberitaan temuan ulat di SPPG Desa Canggung.

Menurut Rosmeli, benda yang ditemukan itu bukan belatung, melainkan ulat daun.

“Kalau kata saya bukan belatung, tapi ulat daun. Sebenarnya secara kesehatan tidak apa-apa, itu malah jadi salah satu indikator penggunaan pestisida tidak banyak. Sayur lebih sehat. Hanya secara estetika memang tidak enak dilihat,” tulisnya.

Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa sayuran yang tampak mulus belum tentu lebih baik.

“Jadi jangan salah juga, daun atau buah yang terlalu bagus dan mulus bisa jadi penggunaan pestisidanya terlalu tinggi, sehingga hewan kecil pun tidak mau hinggap,” lanjutnya.

Selain memberikan penjelasan tersebut, Rosmeli meminta agar media turut menambahkan solusi dalam pemberitaan.

“Mungkin ke depan bisa kalian tambahkan solusinya supaya tidak terjadi lagi. Pengolahan bahan baku harus lebih diperhatikan kebersihannya,” tulisnya.

“Maksudnya, di dalam bahasan kalian bisa ditambahkan tentang itu,” balasnya.

Namun, pada akhir percakapan, Rosmeli juga mengirimkan pesan yang kemudian menjadi sorotan tajam dikalangan Jurnalis.

“Biar kalian juga enggak buta-buta amat, ada ilmunya juga meski sedikit,” tulisnya.

Pesan tersebut dinilai bernada menyindir dan terkesan merendahkan profesi wartawan.

Saat di konfirmasi melalui Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan Devi Arminanto, S.K.M., M.M. terkait ujaran yang di lontarkan oleh salah satu stafnya itu. PLT kepala dinas kesehatan dirinya enggan menanggapi dan berusaha untuk bungkam.

Tidak sampai disitu saja, pihak media pun mencoba untuk mencari dan mengkonfirmasi kepada Kepala Bidang Bina Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Ridwan Syani S.K.M., M.M yang juga di ketahui atasan dari Rosmeli, namun dirinya berbalik arah dan langsung menghilang setelah melakukan rapat di ruang lingkup Dinas Kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *